Kompetensi Psikomotor Guru

Kompetensi Psikomotor Guru

Meliputi segala keterampilan atau kecakapan bersifat jasmaniah yang pelaksanaanya berhunbungan dengantugas selaku pengajar. Guru yang profesional memerlukan penguasaan yang prima atas sejumlah keterampilan ranah karsa yang lengsung berkaitan dengan bidang studi garapanya.
Secara garis besar, kompetnsi ranah karsa guru terdiri atas dua kategori, yaitu : 
1. Kecakapan fisik umum, 
2. Kecakapan fisik khusus.

Kualitas kecakapan jasmaniah yang bersifat umum dan khusus itu, sebagian besar kalau tidak seluruhnya bergantung pada kualitas schema yang terdiri dari schema-schema yang bersisi pengetahuan-pengetahuan spesifik yang komplek. Schema perta (jamak dari schema) ini tersimpan dalam subsistem memori permanen guru tersebut. Schemata dapat dianalogikan sebagi himpunan himpunan file data yang terekam dalam direktori computer, sedangkan schema sendiri merupakan file yang berisi data dan informasi khusus yang kompleks yakni linguistic schema, cultur schema.


Kompetensi Psikomotor Guru
Kompetensi Psikomotor Guru

Apabila anda suatu saat hendak mengajarkan bahasa Indonesia umpamanya, maka schemata anda akan menampilkan file khusu yang berkenaan dengan bahsa yakni linguistic schema. Lalu anda sendiri yang menentukan bagian yang akan diambil untuk keperluan pengajaran, misalnya bagian kecakapan menulis atau bagian kecakpan membaca, atau bagian kecakapan menganalisis struktur kalimat.

Selanjutnya, kecakapan fidik umum, direfleksikan (diwujudkan dalam gerak) dalam bentuk gerakan dan tindakan umum jasmani guru seperti duduk, berdiri, berjabat tangan dalan lain-lainya yang tidak langsung berhubungan dengan aktivitas mengajar. Kompetensi ranah karsa raga mini selayaknya direfeleksikan oleh guru sesuai dengan kebutuhan dan tatakrama yang berlaku.

Adapun ranah karsa guru yang khusus, meliputu keterampilan-keterampilan ekspresi verbal (pernyataan lisan) dan non verbal (pernyataan tindakan) tertentu yang direfleksikan guru terutama ketika mengelola proses belajar-mengajar. Dalam hal merefleksikan ekspresi verbal guru sangat diharapkan terampil dalam arti fasih dan lancer berbicara baik ketika menyampaikan uraian materi pelajaran maupun  ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan para siswa, atau ketika mengomentari sanggahan dan pendapat mereka.

Namun demikian, guru yang cakap dalam ekspresi verbal tidak berarti harus selalu bisa menjawab pertanyaan siswa atau berusaha menutup-nutupi kekurangan dengan cara “menipu” atau mengajukan argument yang dicari-cari, sangat tidak bijaksana. Bersikap dan berprilaku jujur terhdap siswa, meskipun membuat siswa menjadi tahu atau kekurangan guru tersebut, jauh lebih bijaksana dari pada berpura-pura menipu. Guru yang prfesional harus member tahu secara jujur kepada para siswanya bahwa ia lupa atau belum tahu, sambil berjanji akan mencarikan jawaban atas pertanyaan tadi pada kesempatan lain.

Cara jujur seperti itu menunjukan fleksibelitas dan keterbukaan psikologis yang ideal bagi setiap guru, ketidak tahuan guru yang professional bagi para siswa dalam dunia pendidikan modern sekarang ini dianggap wajar dan manusiawi. Cepat atau lambat, para siswa akan menyadari nobody knows everything, tak seorang pun yang tahu segala sesuatu.
Adapun mengenai keterampilan ekspresi nonverbal yang harus dikuasai guru ialah dalam hal mendemonstrasikan hal-hal yang terkandung dalam materi pelajaran. Kecakapan-kecakapan tersebut  meliputi :
1. Menulis dan membuat bagan di papan tulis.
2. Memeragakan proses terjadinya sesuatu.
3. Memeragakan penggunaan alat/sesuatu yang sedang dipelajari.
4. Memeragakan prosedur melakukan keterampilan praktis tertentu sesuai dengan penjelasan verbal       yang telah dilakukan guru.

Perlu diperhatiakan bahwa dalam melakukan ekspresi non verbal guru hendaknya mempertahankan akurasi (kecermatan) dan konsisten (keajegan) hubungan antara ekspresi nonverbal tersebut dengan ekspresi vebal. Jadi, guru harus menyatukan ucapan dengan perbuatan. Hal ini penting, sebab jika akurasi dan konsistensi tadi gagal diperlihatkan guru kepada siswa, maka kepercayaan mereka kepada kepiwaian guru dan arti penting materi pelajaran mungkin akan merosot. Dampak negatif selanjutnya, mungkin minat dan gairah para siswa dalam mempelajari materi tadi akan merosot pula.

Sumber.Bisiri Mustofa Djaelani M.Si
ETIKA DAN PROFESI GURU

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to " Kompetensi Psikomotor Guru "

Post a Comment